Teknologi, istilah ini apabila diucapkan yang akan terbayang oleh kita adalah alat-alat elektronik digital yang mungkin  super canggih, super cepat, super lengkap dan harganya mahal. Dengan bantuan alat-alat tersebut kita dapat lebih mudah dalam menjalani kehidupan dan lebih mudah pula berkomunikasi dengan orang-orang yang berada jauh dari kita.
 
Di era modern ini, dimana semua aspek kehidupan tak bisa dilepaskan dari keberadaan dan kebergantungan pada teknologi, membuat perkembangan teknologi menjadi sedemikian pesatnya. Hal ini mungkin disebabkan karena permintaan masyarakat akan alat elektronik yang lebih canggih, cepat dan lengkap daripada sebelumnya. Berbagai temuan dan perkembangan IT yang tidak pernah terbayangkan oleh generasi sebelumnya kini berada di depan mata.

Keberadaan teknologi pada semua aspek kehidupan ini pula yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan pengaruh pada pola interaksi, pada kehidupan sosial masyarakat. Kemajuan teknologi jarak jauh seperti PDA, telepon selular, komputer, kamera, dan internet membuat kehidupan manusia menjadi lebih mudah sehingga tak ada lagi jarak pembatas di bumi ini. Semuanya dapat dijangkau tanpa harus berada di tempat yang dikehendaki.
 
Seperti dua sisi mata pisau, kemajuan pesat yang dialami teknologi ternyata tidak hanya membawa dampak positif, tetapi juga membawa dampak negatif bagi masyarakat. Disadari atau tidak, ia telah mengubah beberapa nilai, norma dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat.
 
Di Indonesia, yang merupakan negara dengan adat ketimuran yang kental, rata-rata masyarakatnya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai, norma dan adat istiadatnya sebagai aset untuk melestarikan daerah dan budayanya secara turun temurun. Nilai dan norma yang dimaksud adalah sopan santun, menghormati orang tua, saling menghargai sesama, budaya gotong royong, bermusyawarah, dan lainnya yang menjadi ciri khas orang Indonesia. Kebiasaan mengalah, menghargai jasa orang lain, menghormati hak milik orang merupakan gambaran betapa orang Indonesia merupakan bangsa yang sangat menjunjung tinggi budayanya. Bagi orang Indonesia budaya adalah jembatan menuju kesuksesan, budaya adalah tempat untuk mencari solusi jika terdapat permasalahan, budaya adalah harta yang tak ternilai harganya.
 
Teknologi komunikasi pertama yang muncul dan berkembang di masyarakat adalah surat kabar atau koran, kemudian berkembang radio, televisi, film, handphone dan yang terakhir dan masih terus mengalami perkembangan pesat adalah komputer dan internet.
 
Dengan kemunculan surat kabar dan radio, membawa dampak pada struktur dan pola interaksi masyarakat. Jika dulu dikenal ada istilah opinion leader, kini peran tersebut digantikan oleh media massa. Opinion leader dapat diperankan oleh pemuka agama, tetua, tetua adat atau orang-orang yang dianggap kharismatik dan dapat mempengaruhi audience. Saat ini peran tersebut diambil alih oleh media massa. Dengan perkembangan teknologi komunikasi massa saat ini sehingga mudah dijumpai kapan dan dimana saja, membuat orang tidak lagi bergantung pada opinion leader apabila hendak mencari informasi, tetapi sudah dapat memperolehnya sendiri dari media massa.
 
Semakin dominannya peran media massa terhadap masyarakat membawa dampak positif dan juga negatif. Dampak positifnya, masyarakat menjadi lebih cepat mengetahui informasi dan membuat tingkat pendidikan meningkat, tetapi dampak negatifnya apabila tidak diberi informasi yang sebenar-benarnya dan tanpa adanya regulasi yang mengatur, akan membuat masyarakat ‘menelan’ informasi tersebut bulat-bulat, terutama untuk masyarakat awam.
 
Menurut catatan Agee, et al,siaran percobaan televisi di AS dimulai pada tahun 1920-an. Para ilmuwan terus mengembangkan teknologi ini dan puncaknya pada tahun 1948, terjadi perubahan dari televisi eksperimen menjadi televisi komersial di Amerika. Kegiatan penyiaran televisi di Indonesia sendiri dimulai pada tanggal 24 Agustus 1962, bertepatan dengan dilangsungkannya pembukaan Asean Games IV di Senayan.
 
Televisi saat ini sudah bagaikan ‘anggota keluarga baru’ bagi masyarakat. Kehadirnnya dengan tampilan yang menarik melalui sajian audio dan visual membuat apa yang ditampilkannya seolah-olah benar-benar terjadi dihadapan kita. Membuat kita lebih mudah untuk mengimitasi apa yang disajikan sehingga membuat seseorang tanpa sadar telah terbawa oleh arus siaran televise, baik itu iklan, tenovela, siaran berita dan sebagainya. Bagi penonton yang telah memiliki self control yang tinggi akan mampu untuk memfilter setiap informasi/tayangan televisi yang ditontonnya, namun sebagian besar warga masyarakat tanpa menyadari telah telinfiltrasi oleh muatan dalam psan siaran televise tersebut. Lebih parah lagi bila penonton masih anak-anak yang notabene menelan mentah-mentah tayangan televisi. Lebih mengkhawatirkan, kebanyakan orang tua tidak sadar akan kebebasan media yang kurang baik atas anak-anak. Anak-anak tidak diawasi dengan baik saat menonton televisi. Dengan kondisi ini sangat dikawatirkan bagaimana dampaknya bagi perkembangan anak-anak. Sering kita jumpai pada siaran televise bahwa banyak anak yang menirukan adegan di televise, baik yang baiknya maupun yang buruknya. Parahnya apabila meniru hal yang buruk, ini akan berdampak pada perkembangan anak atau pendidikan dan tingkah lakunya.

Semakin maraknya pengunaan telepon selular atau handphone beberapa tahun terakhir juga berdampak pada masyarakat. Menurut data majalah Komputer Aktif (no. 50/26 Maret 2003), berdasarkan survei Siemens Mobile Lifestyle III menyebutkan bahwa 60 persen remaja usia 15-19 tahun dan pascaremaja lebih senang mengirim SMS daripada membaca buku. Dapat dikatakan, budaya membaca yang sudah terancam oleh budaya dengar dan lihat, diancam lagi oleh budaya mengirim SMS.

Selain semakin menurunkan minat baca, berkomunikasi melalui handphone ternyata berdampak pula pada norma yang berlaku di masyarakat. Dulu jika berkomunikasi dengan orang  lain perlu bertemu tatap muka. Dengan orang yang lebih tua atau kita hormati akan membuat kita merasa sungkan dan menjaga sikap ketika berkomunikasi. Tetapi dengan adanya handphone, kita tidak perlu harus bertatap muka apabila ingin berkomunikasi. Kemudahan ini ternyata membuat orang terkadang lupa dan menyamakan saja ketika berkomunikasi dengan orang yang dihubunginya, baik ia lebih tua ataupun sebaya. Hal ini mungkin disebabkan karena yang ia hadapi ketika berkomunikasi adalah medianya (dalam hal ini handphone), tanpa perlu bertemu si individu langsung.

Kemudahan lain yang ditawarkan oleh perkembangan teknologi adalah Internet. Keberadaan internet yang semakin marak dan menyediakan hampir semua yang dibutuhkan menimbulkan kebiasaan baru di masyarakat, yaitu budaya copy paste.
 
Sebagai contoh kasus, kebiasaan copy paste yang dilakukan mahasiswa ataupun dosen, baik saat mengerjakan tugas ataupun membuat sebuah penelitian. Tersedianya hampir segala yang dibutuhkan orang di internet membuat kita merasa ‘dimanja’, sehingga akhirnya melahirkan budaya ini.
 
Pada kebiasaan baru ini, apabila dipandang sebagai perbuatan mencontek atau plagiat, orang sudah tidak mengindahkan anggapan perbuatan tersebut tidak baik. Bahkan hal ini sudah menjadi hal yag lazim dan dianggap biasa oleh sebagian masyarakat.
 
Perkembangan pesat internet juga ternyata berbanding lurus dengan semakin bertambahnya tingkat kejahatan di dunia maya (cybercrime) dan pornografi. Hal-hal yang berbau erotisme dapat dengan mudah di akses dari mana saja dan oleh siapa saja, bahkan oleh anak-anak sekalipun. Usaha berbagai pihak untuk membendung dampak negatif ini ternyata belum menunjukkan hasil yang signifikan, hal ini mungkin dikarenakan ruang lingkup internet yang sedemikian besarnya, sehingga tidak dapat di-cover seluruhnya.
 
Meningkatnya kasus pornografi ini antara lain disebabkan melalui internet, kita dapat menjelajah ke berbagai belahan dunia dengan mudahnya. Terpaan budaya dari luar (barat) inilah yang kemudian membuat hal-hal yang awalnya tabu bagi masyarakat menjadi hal yang biasa, lazim dan bahkan mendapat maklum dari masyarakat. Perlahan terpaan budaya barat tersebut memberi pengaruh bagi generasi muda yang memang notabene masih labil dan cenderung lebih mudah terpengaruh oleh hal-hal yang terlihat menarik. Ditambah dengan kurangnya kawalan dari orang tua dan masyarakat, penyerapan budaya barat ini tertanam dibenak generasi muda dan akhirnya menggeser nilai-nilai dan adat budaya ketimurannya.
   
REFERENSI :
Nurudin. 2004. Sistem Komunikasi Indonesia. Jakarta : Rajawali Pers
Ardianto, M.Si, Drs. Elvinaro dan Dra Lukiati Komala Erdiyna, M.Si. 2007. Komunikais Massa : Suatu Pengantar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
http://nilaieka.blogspot.com/2009/05/dampak-siaran-tv.html